Senin, 20 Maret 2017

KETERAMPILAN DASAR PADA SAAT PRATIKUM DILABORATORIUM



Keterampilan Dasar Laboratorium merupakan kegiatan praktek yang bertujuan melatih kemampuan mahasiswa dan memberikan pemahaman aplikasi teori dalam bentuk praktek di laboratorium.
Berikut beberapa keterampilan dasar laboratorium meliputi:
1.      Keterampilan dasar sebelum pratikum
a.       Mengetahui semua perlengkapan yang wajib digunakan dalam praktikum seperti jas lab, masker, sarung tangan, sepatu, kaca mata dan lain sebagainya.
b.      Mengetahui berbagai macam alat yang ada dalam laboratorium beserta fungsinya.
c.       Mengetahui zat-zat yang yang berbahaya bagi tubuh.
d.      Menguasai konsep atau teori dasar mengenai praktikum yang dilaksanakan.
e.       Mengetahui cara penggunaan alat dalam laboratorium.
f.       Mengetahui cara mensterilkan atau mengkalibrasi alat-alat dalam laboratorium.
g.      Mengetahui alat dan bahan, prosedur yang akan dilakukan dalam percobaan.

2.      Keterampilan dasar pada saat pratikum
a.       Menggunakan kelengkapan yang wajib dalam praktikum seperti jas lab, masker, sarung tangan, sepatu ket, dan sebagainya.
b.      Dapat menggunakan alat-alat praktikum yang dilakukan.
c.       Dapat mensterilkan atau mengkalibrasi alat-alat dalam laboratorium.
d.      Dapat mengenali jenis-jenis zat yang digunakan saat melakukan praktikum.
e.       Dapat melakukan praktikum sesuai prosedur yang ada.
f.       Dapat menyimpulkan hasil dari praktikum.

3.      Keterampilan dasar setelah pratikum
a.       Dapat mengingat bagaimana cara penggunaan alat
b.      Dapat menyimpan alat dan bahan yang telah digunakan dengan baik dan ditempatkan pada tempat yang sesuai
c.       Dapat mengetahui hasil dari praktikum
d.      Dapat mengetahui manfaat dari praktikum tersebut

Permasalahan :
Kita sebagai calon guru, cara apa yang dapat kita terapkan agar dalam diri siswa tertanam atau memiliki keterampilan dasar diatas dan siswa selalu menerapkannya pada saat pratikum atau saat berada di laboratorium?? Berikan ide kreatifmu J

Selasa, 14 Maret 2017

PENILAIAN AUTENTIK PADA KURIKULUM 2013



A.    PENGERTIAN PENILAIAN AUTENTIK
Asesmen autentik adalah suatu proses evaluasi yang melibatkan berbagai bentuk pengukuran terhadap kinerja yang mencerminkan pembelajaran siswa, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran. Menurut O’malley dan Pierce (Dalam Anonim, tt) mengatakan bahwa asesmen otentik adalah bentuk penilaian yang menunjukkan pembelajaran siswa yang berupa pencapaian, motivasi, dan sikap yang relevan dalam aktivitas kelas. Berdasarkan beberapa pengertian tentang asesmen autentik yang telah dikemukkan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa asesmen otentik merupakan suatu proses evaluasi yang melibatkan berbagai bentuk pengukuran yang berupa produk-produk dan kinerja yang mencerminkan pembelajaran siswa, pencapaian, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap.
Penilaian autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Ketika menerapkan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.
B.     CIRI PENILAIAN AUTENTIK
            Ciri penilaian autentik antara lain adalah:
1) Memandang penilaian dan pembelajaran secara terpadu.;
2) Mencerminkan masalah dunia nyata bukan hanya dunia sekolah.;
3) Menggunakan berbagai cara dan kriteria;
4) Holistik (kompetensi utuh merefleksikan sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
C.     JENIS-JENIS PENILAIAN AUTENTIK
1.      Penilaian Kinerja
Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Cara merekam hasil penilaian berbasis kinerja: Daftar cek (checklist), Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records), Skala penilaian(rating scale), Memori atau ingatan (memory approach).
2.      Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktutertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasiyang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data.
3.      Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
4.      Penilaian Tertulis
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Penilaian tertulis adalah penilaian yang menuntut peserta didik memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian. Penilaian tertulis yang dikembangkan dalam penilaian otentik lebih dutekankan pada penilaian tertulis yang jawabannya berupa isian dapat berbentuk isian singkatdan/atau uraian.
5.      Penilaian Lisan
Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan denganmengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan pesertadidik  Penilaian lisan sering digunakan oleh pendidik di kelas untuk menilai peserta didik dengan cara memberikan beberapa pertanyaan secara lisan dan dijawab oleh peserta didik secara lisan juga. Pertanyaan lisan merupakan variasi dari tes uraian. Penilaian ini sering digunakan pada ujian akhir mata pelajaran agama dan sosial. Penilaian lisan bertujuan untuk mengungkapkan sebanyak mungkin pegetahuan dan pemahaman peserta didik tentang materi yang diuji.  Sedangkan kelemahan tes lisan antara lain subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes dan waktu pelaksanaan yang diperlukan relatif cukup lama.
6.      Penilaian Praktik
Penilaian Praktek dilakukan dengan cara mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan aktivitas pembelajaran. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi atau indikator keberhasilan yang menurut peserta didik menunjukkan unjuk kerja, misalnya bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi, menggunkan peralatan laboratorium, mengoperasikan komputer.
D.    PENILAIAN AUTENTIK DAN TUNTUTAN KURIKULUM  2013

Tuntutan kurikulum 2013 untuk penilaiannya antara lain yaitu :
a.       Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran;
b.      Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain;
c.       Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan  peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik;
d.      Penilaiana autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai;
e.       Penilaian autentik sering dikontradiksikan  dengan penilaian yang menggunakan standar tes berbasis norma, pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat;
f.       Penilaian autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru bekerja sama dengan peserta didik;
g.      Pelibatan siswa sangat penting. Asumsinya, peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu  akan dinilai;
h.      Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri untuk meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi;
i.        Penilaian autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah;
j.        Penilaian autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar, kegiatan siswa belajar, motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar, karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran, guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja;
k.      Penilaian autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek;
l.        Penilaian autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya.
Kita sebagai calon guru, apa yang harus kita lakukan supaya penilaian autentik dalam proses pembelajaran sesuai dan tepat sasaran dengan kemampuan siswa?

Rabu, 08 Maret 2017

KENDALA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013



Baru-baru ini dengan diterapkannya Kurikulum 2013 timbul beberapa pro dan kontra. Hal ini diakibatkan kebijakan yang pemerintah buat tidak sesuai dengan harapan dan kondisi nyata yang ada di lapangan. Para guru yang ditunjuk sebagai pelaksana kurikulum merasa bingung dengan diterapkannya kurikulum 2013 ini. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan kurikulum sebelumnya yakni kurikulum KTSP dalam pembelajarannya, karena mereka belum begitu paham dengan kurikulum 2013 yang sebenarnya, padahal beberapa dari mereka telah dilatih dalam persiapan pelaksanaan Kurikulum 2013. Salah satu perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya buku siswa dan buku guru yang telah disediakan oleh pemerintah pusat sebagai buku wajib sumber belajar di sekolah. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013, yakni pendekatan scientific.
Pendekatan ini lebih menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Pendekatan ini dilaksanakan dengan melibatkan tiga model pembelajaran diantaranya adalah problem based learning, yaitu model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik, sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri. Project based learning, adalah pemanfaatan proyek dalam proses belajar mengajar, dengan tujuan memperdalam pembelajaran atau pembelajaran berbasisi proyek, dimana siswa lebih aktif dan guru hanya sebagai fasilitator,  dan discovery learning yaitu. Proses peembelajaran yang terjadi bila siswa tidak disajikan dengan pelajaran dalam benatuk finalnya. Ketiga model ini akan menunjang pelaksanaan kurikulum 2013.
Guru merupakan salah satu faktor penting dalam implementasinya kurikulum. Bagaimanapun idealnya suatu kurikulum tanpa ditunjang oleh kemampuan guru untuk mengimplementasikannya, maka kurikulum itu tidak akan bermakna sebagai suatu alat pendidikan, dan sebaliknya pembelajaran tanpa kurikulum sebagai pedoman tidak akan efektif. Dengan demikian peran guru dalam mengimplementasikan kurikulum memegang posisi kunci. Dalam proses pengembsngan kurikulum, peran guru lebih banyak dalam tataran kelas.
Pada pelaksanaannya Kurikulum 2013 di daerah masih menyisakan berbagai persoalan. Meski tujuan kurikulum baru itu baik, namun pelaksanaan di lapangan harus mendapat banyak perbaikan. Persoalan-persoalan yang muncul antara lain :
1.      Guru sebagai manajer di kelas belum memahami benar implementasi kurikulum 2013 yang seharusnya. Meskipun sudah dilakukan pelatihan-pelatihan terhadap guru, tetapi belum semua guru memahaminya secara baik. Pun guru yang mengikuti pelatihan belum semua informasi terkait dengan implementasi kurikulum terserap dengan baik.
2.      Kurangnya buku panduan pelajaran dari Pemerintah Pusat. Bahkan di beberapa sekolah SMP yang menjadi pilot project penerapan Kurikulum 2013 di Kabupaten Tegal (dan mungkin di kabupaten lainnya di Indonesia), hanya terdapat dua buku panduan. Untuk mengatasi itu, pihaknya mengunduh buku panduan dari internet dan memperbanyak.
3.      Buku siswa yang idealnya juga dimiliki siswa dengan komposisi satu buku satu siswa masih belum dapat disediakan dengan cukup. Kondisi tersebut memaksa sekolah untuk melakukan pengadaan buku tersebut dengan penggandaan yang tentunya membutuhkan biaya tambahan.
4.      Sistem rapor. Masalah mungkin muncul pada pertengahan Oktober depan, berkaitan dengan sistem rapor kepada orang tua siswa. Hingga sekarang belum ada petunjuk teknis bagaimana rapor itu nanti dibuat, yang mengacu kepada sistem penilaian di perguruan tinggi dengan nilai A, B, C, dan seterusnya.
5.      Lainnya adalah keberatan para orang tua siswa berkaitan dengan adanya kata-kata kasar dalam buku panduan Kurikulum 2013.
6.      Terdapat beberapa daerah yang memaksakan diri dalam pelaksanaan kurikulum 2013. Sebagai contoh Kota Tegal, pada tahun pelajaran 2013/2014 secara serentak mewajibkan seluruh sekolah untuk menerapkan kurikulum 2013. Hal ini jelas menimbulkan permasalahan, misalnya mahalnya biaya pengadaan buku. Masalah ini menjadi lebih parah manakala siswa diwajibkan untuk membeli buku sendiri. 

KENDALA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SMA N 1 MUARO JAMBI

Beberapa kendala dalam implementasi kurikulum 2013 pada pembelajaran kimia di SMA N 1 Muaro Jambi yaitu :
1.      Proses pembelajaran student center
Apabila dalam pembelajaran dipusatkan pada siswa saja, maka akan terjadi miskonsepsi dan membingungkan siswa karena siswa belum terbiasa dengan proses pembelajaran yang seperti ini, siswa sudah terbiasa dengan guru menjelaskan dan siswa mendengarkan. Oleh karena itu guru tetap harus menggunakan metode ceramah demi berlangsungnya pembelajaran. Namun peran guru disini lebih untuk membimbing dan mengarahkan siswa memahami materi yang sedang diajarkan.
2.      Sumber belajar
Pada penerapan kurikulum 2013 ini, siswa dituntut untuk memiliki buku. Tetapi  dalam penerapanya sekolah hanya menyediakan buku-buku untuk matapelajaran umum seperti bahasa indonesia, bahasa inggris, matematika dan lain-lain. Untuk matapelajaran ipa atau ips buku tidak disediakan oleh sekolah.
3.      Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana yang disediakan pemerintah untuk SMA N 1 Muaro Jambi masih sangat terbatas. Memang untuk laboratorium kimia sudah tersedia, tetapi tidak tersedia infokus dan lab Komputer. Padahal pada kurikulum 2013 Ujian Nasional menggunakan komputer atau sistem CBT tetapi komputer yang tersedia dalam sekolah tersebut sangat terbatas.
4.      Peminatan/ pemilihan jurusan dilakukan diawal masuk
Sebelum masuk sekolah, siswa telah memilih jurusan yang akan dijalaninya selama menjadi siswa SMA dengan cara mengikuti psikotes. Pemilihan jurusan ini didasarkan oleh hasil psikotes dan angket yang diberikan sekolah. Banyak masalah yang ditemui disini, terkadang orang tua menginginkan anaknya masuk jurusan ipa, tetapi anak tersebut tidak mempunyai kemampuan dibidang ipa, justru si anak mempunyai kemampuan dibidang ips. Hal inilah yang akan menyebabkan kesulitan si anak dalam proses pembelajaran, karna si anak tersebut bisa dikatakan salah masuk jurusan. Yang seharusnya masuk ips justru malah masuk ipa, sehingga siswa akan kesulitan memahami materi yang telah diberikan.
5.      Matapelajaran kimia dijadikan Ujian Nasional pilihan
Permasalahan yang muncul yaitu pada saat kimia dijadikan ujian nasional yaitu sedikitnya minat siswa untuk memilih kimia sebagai ujian nasional kimia. Hal ini dapat terjadi karena siswa beranggapan bahwa kimia itu sulit dan sangat membosankan jika dibandingkan dengan biologi yang kita ketahui hanya mengandalkan pemahaman dan hapalan. Sedangkan kimia ini banyak menggunakan rumus dan soal yang dihadapi cenderung soal hitungan. Itulah yang menyebabkan siswa kurang berminat untuk mengambil matapelajaran kimia sebagai Ujian Nasional pilihan.



Dari berbagai masalah diatas, solusi apa yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah yang timbul tersebut ? Berikan ide cemerlang mu... :)